Selasa, 09 April 2013

#KamseupaySyindrome


Ikutan Trend #KamseupaySyndrome nya si Comic Stand Up Comedy 3 @TretanMuslim 

Lucu aja sih, banyak (khususnya para #EverLastingMuslim -sebutan untuk fans Muslim-) yang ngupload gaya khas ini kemudian di mentionkan ke akun @TretanMuslim. Dan kebanyakan sih pasti dibales dengan kalimat andalan #StendingOvesen #WhatTheFugh dsb, heran sih cak Muslim ini minim kosakata banget buat ngebalasnya. hahha

 Pencetusnya yang disebelah kanan, yang kiri itu cak menegernya (tepatnya sih soulmatenya kali ya)

Kenapa sih saya ikutan suka dan ikut tergabung sama #EverLastingMuslim?
Alasannya gak tau. Ganteng? nggak tuh. ha ha, masih gantengan Reza Rahadian. Uhuk. Tapi suka aja sama gaya stand up nya cak Muslim yang smart, lucu, norak dan pastinya kamseupay. hahaha. Padahal basicnya dia seorang perawat di kampung halamannya di Madura sana, seorang K-popers sejati, trus katanya jualan Quick Sate (entah yang ini dia ngibulin saya atau nggak -_-)

Materi stand up nya di setiap episode selalu matang, dan kadang nyindir juga sih. Memang harus begitu kan? Stand Up bukan hanya untuk bahan tertawaan semata, tapi ada point khusus yang harus disampaikan (baru dapat pencerahan karena habis baca buku Om pandji, Merdeka dalam Bercanda)

Tapi sayang cak Muslim close mic di 6 besar (padahal awalnya saya yakin dia pasti masuk 3 besar), yang dimana pada saat itu bit/materinya bagus tapi disampaikan dengan performa yang minus. Sempat kaget sih, jagoan saya ini akhirnya dipulangkan. Tapi kata cak Muslim sendiri "I just back off one step, move on two steps" Ha ha, artinya dia gak sedih. Karena panggung Stand Up itu bukan hanya di perhelatan #SUCI3 doang, panggung itu bukan cuma di TV dan berkarya nggak harus jd juara :)

Akhir kata : Kamu selalu jadi juara-nya dalam hati #ELM cak! Semangat! Ku tunggu kau di kotaku. *kode*

Semoga yang baca gak ikutan kamseupay kayak saya dan pencetusnya ya.
Peluk cium :*

Senin, 08 April 2013

Untittle Part II

     “Aimi, aku ingin bertanya PR matematika ini. Bisa bantu nggak?” Ekta tiba-tiba masuk ruang praktek mamanya yang kebetulan memang jam praktek malam ini sudah habis, kemudian menghampiriku yang masih sibuk mensterilkan alat.
          Sebelum aku menjawab, dokter Anna sudah menyela “Aunty Aimee, Ekta. Namanya Aunty Aimee, kamu nggak sopan kalo panggil ‘Aimi’ seperti itu lagi.” Ekta menunduk. “Lagian Aunty sedang sibuk, kamu belajar sendiri dulu ya.”
        “Nggak apa-apa, dok. Sebentar lagi saya selesai, nanti saya bantu Ekta,” Aku menjawab ringan, membela Ekta.
           “Nanti kamu pulang kemalaman loh, Aimee. Biar saja Ekta nanti saya yang bantu.”
        “Sekali lagi nggak apa-apa, dok, biar saya bantu Ekta sebentar,” aku meyakinkan dokter Anna dengan tatapan tenang-aja-saya-bisa-dan-tidak-terbebani-sama-sekali.
         Dokter Anna mengangkat bahu sambil menghela nafas seolah berkata terserah kamu saja lah. Ekta tersenyum puas seolah senyumnya itu pun menterjemahkan kalimat Thanks, Aimi. Kamu baik banget  deh. Oke berlebihan, kalimat terakhir itu hanya terjemahan bodohku saja.
      Aku hampir lupa menceritakan kalau Ekta sering kali memintaku membantunya mengerjakan PR atau menemaninya belajar sebentar dikala pasien mamanya sedang sepi atau sehabis praktek. Selama aku bisa sih, selama tidak sedang sibuk juga, lumayan bisa mendekatkan diri sama bocah ganteng itu.
***
          Kalian mungkin tahu perasaanku ini hanya perasaan kesepian biasa, oke kasarnya “jomblo ngenes” yang membuatku sedikit sinting, sehingga bisa menyukai anak 12 tahun seperti Ekta. Dan kalian juga mungkin yakin, kalau saja aku sudah bertemu seorang “sosok” yang benar-benar aku cari, aku tidak akan menjadi kurang waras seperti ini lagi kan? Iya kan? Jadi jangan pernah mengira aku seorang pedofil ya. Thanks, ini hanya perasaan main-main.
***
        Namun terkadang Ekta pernah membuat perasaaku ini seperti bukan perasaan main-main, perasaan gila yang semakin merambat di hati. Seolah-olah perasaan suka itu benar-benar mencengkram dan memenuhi isi kepala. Sempat terfikir ingin rasanya aku berubah menjadi bocah seumuran Ekta, biar kita bisa tumbuh bersama. Tapi itu nyatanya TIDAK AKAN PERNAH MUNGKIN!
         Hari itu, aku sudah memanaskan motor segera beranjak pulang. Sedangkan Ekta baru saja pulang dari sekolahnya, ia menuruni mobil dengan wajah riang seperti biasa.
          “Aimi, jangan pulang dulu. I have a special gift for you. Kata mama, Aimi ulang tahun hari ini kan?”
          Oh Tuhan, aku bahkan lupa hari ini aku ulang tahun. Ekta berjalan ke arah motorku, aku enggan turun, kubiarkan saja ia yang mendekat. Entah special gift apa yang ia maksud, spekulasi bermunculan. Jangan-jangan anak ini mau mengerjaiku. Kadang Ekta sumpah bisa sangat menyebalkan!
          “Apa?” aku hanya menanyai Ekta dengan tiga huruf singkat itu. Tumben aku sok judes.
       “Coba lihat deh, aku tadi bikin ini di sekolah buat Aimi. Khusus buat ulang tahun Aimi.” Ekta memamerkan ketupat mini yang terbuat dari anyaman pita warna-warni. Disusun seperti tersambung dengan seutas tali, membentuk untaian ketupat-ketupat mini beraneka ragam warna.
          Aku ternganga, terpaku sebentar. Mengingat-ingat, apakah ini sedang bulan Ramadhan dan esoknya mau lebaran? Tapi seingatku tidak, dan ramadhan pun masih lima bulanan lagi. Lalu apa hubungan ketupat dengang ulang tahun?
        “Bingung ya, Aimi?” Ekta menanyaiku seolah dapat membaca isi kepalaku. Aku hanya mengangguk. “Ulang tahun kan identik dengan sesuatu yang warna-warni, Aimi. Tadi aku ada pelajaran keterampilan menganyam ketupat dari pita, kebetulan aku ingat Aimi hari ini ulang tahun. Jadi aku bikinkan ketupat warna-warni ini sebagai kado untuk Aimi”
         Aku masih melongo, masih tidak mengerti. Tapi tiba-tiba Ekta membalikkan untaian ketupat itu dengan arah sebaliknya, ternyata oh ternyata dibalik ketupat (yang sebelumnya arahnya menutup ke arah badan Ekta) itu ada tulisan HAPPY BIRTHDAY AIMI. Ditulis menggunakan spidol berwarna hitam dengan huruf kapital yang miring-miring khas tulisan Ekta.
        Aku menutup wajah, sedikit terharu. Anak ini benar-benar menyihirku, “Makasih banyak ya,  Ekta. Kadonya bagus banget.”
       “Yeah, bagus dong pasti. Apa yang aku bikin pasti bagus.” Ekta mulai narsis, membanggakan hasil prakarya ketupatnya itu. Aku tertawa seraya membatin, “Ekta, kenapa kita nggak lahir barengan aja sih?”

Untittle Part I

          Apa hal tergila yang pernah kalian lakukan? Menari tor-tor secara brutal di tengah pidato perpisahan sekolah? Menyanyi sumbang sambil melakukan kayang di acara wedding keluargamu? Atau mungkin memakai wig kribo berwarna-warni khas badut serta kaca mata hitam besar saat pergi kuliah ke kampus? Oke, itu mungkin sebagian hal tergila yang pernah orang-orang lakukan diluaran sana. Tapi bagiku, hal tergila yang pernah aku lakukan bahkan secara gamblang masih berlangsung sampai detik ini adalah menyukai habis-habisan bocah kelas 6 SD. Itu tak akan pernah jadi masalah kalau saja sekarang aku masih berusia 12 tahun, tapi ini benar-benar hal gila kalau kalian tahu berapa usiaku sekarang, dua bulan lagi aku menyudahi masa usia kepala 2, ya dua bulan lagi usiaku genap 21 tahun. Benar-benar menyebalkan! (Oke dan silahkan kalian menyumpah aku ini seorang Pedofil! Tapi sungguh, aku tidak sehina itu.)
****
         “Aimee, tolong kamu siapkan semua peralatan saya seperti biasanya ya, saya mau mengantar Ekta dan Sonya sekolah dulu,” wanita paruh baya dengan balutan gamis itu berbicara kepadaku sambil merapikan jilbabnya.
             “Siap, dok” seperti biasa aku menyanggupi permintaannya dengan senang hati.
           Oh iya, aku lupa mengenalkan diri. Namaku Aimee Savarasti, panggil saja Aimee, bacalah seperti kalian melafalkan kata cafe atau sate. Aimee, not Aimi. Cuma Ekta yang boleh memanggilku Aimi. Siapa Ekta? Ekta akan aku perkenalkan setelah kalian tahu siapa aku.
           Aku seorang perawat gigi, iya perawat gigi. Kalian tidak sedang salah baca kok. Aku bukan seorang dokter gigi, kenapa? Karena aku tidak pernah kuliah di kedokteran, tapi hanya diploma keperawatan gigi. Dan aku baru saja menamatkan pendidikan tersebut dan kemudian mencoba dunia kerja dengan melamar menjadi seorang asisten dokter gigi. Kebetulan sekali teman lama mamaku yang seorang dokter gigi sedang memerlukan asisten untuk membantunya di klinik yang ia buka di rumah. Tanpa perlu paksaan mama, aku pun dengan semangat berkobar melamar di tempat praktek dokter tersebut, dokter Annisa Marissa namanya.
        Dokter Anna Marissa, lebih sering ku panggil dokter Anna saja. Ia yang menjadi emmm bosku sementara ini. Dokter Anna memiliki 2 orang anak.  Anak yang pertama bernama Ekta Pradipta, 12 tahun Dan yang kedua bernama Sonya Pramudita, 8 tahun. Ekta dan Sonya setidaknya senang akan kehadiranku disana, mereka memanggilku dengan sebutan Aunty Aimee (padahal mereka sudah aku paksa untuk memanggil “kakak” saja, tapi itu hanya dapat berlangsung 3 hari, sisanya mereka balik lagi manggil Aunty. Pasrah) bahkan sekarang Ekta lebih suka memanggilku Aimi saja (walau terkadang suka ditegur mamanya, karena katanya panggilan itu tidak sopan kepadaku)
       Kesan pertama bertemu Ekta, dia merupakan bocah yang ganteng dan senang ceplas-ceplos.  Berbanding terbalik dengan sonya yang lebih pendiam dan lebih malu-malu. Ekta lebih mencuri perhatian, Ekta sejak awal sudah membuatku suka. Ekta.... ah terlalu banyak kesan yang kamu timbulkan, Nak!
          Hampir setengah tahun aku bekerja bersama dokter Anna, aku sudah terlalu hapal dengan semuanya yang berbau “Ekta”. Aku tahu Ekta menyukai club sepakbola Barcelona dan ia memiliki jersey tim kesayangannya tersebut dengan nomor punggung 10 plus nama belakang kebangsaannya PRADIPTA. Ekta lebih suka mie goreng dengan taburan ekstra bawang goreng ketimbang mie kuah yang menurutnya tidak enak. Jangan sekali-kali menyuruh Ekta minum susu coklat, dia akan langsung mual tiba-tiba. Ekta tidak suka kucing, ia bilang menggelikan. Benda penting yang harus selalu ia bawa adalah minyak telon, karena Ekta kecanduan baunya. Ekta tidak suka ini dan Ekta lebih suka itu, semua aku tahu. Oh, Tuhan sebegitu Ekstrimnya hambamu ini. Haruskah aku pergi ke psikiater?

 

Zulva's Wedding

Happy Wedding ya, Zulva :) 
Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah. Bahagia dan terus bersama selamanya. AMIN

Kamis, 04 April 2013

Welcome back, Iko :)

Hehehe, long time no see hai para Frappes and Lattes. Blog ini udah hampir 5 bulan merengek minta disentuh, eh akhirnya baru sekarang ada kesempatan membelai lagi. Hehhe

Sibuk? gak juga sih. Dominasi kemalasan aja, selain itu jaringan provider internet Sp**dy lagi gangguan abis, bikin kemalasan itu berasa dikompori.
Well, semoga kedepannya bisa nge-blog lagi yaaa :)

Saya sih lagi sibuk bikin, eh tepatnya nyoba bikin cerpen lagi setelah sekian tahun vacum dari dunia tulis-menulis cerpen. Emmm semoga gak banyak kena block writer ya, sehingga nantinya nggak berujung di satu folder "cerpen tak kunjung usai" hahaha

Oke, tetap semangat buat saya dan semuanya nya nyaaaa :)
Peluk cium :*

Kamis, 14 Maret 2013

A Moment Bareng Reza Rahadian

Ini cerita lawas sih, cuma baru aja sempat setor di blog :)

Cerita senangnya saya pernah ngetwit ke Reza Rahadian. Siapa tuh Reza? Artis idola saya pemirsaaah :p
 
 Ini waktu Reza Rahadian ulang tahun tanggal 5 Maret kemarin

Kalau yang ini waktu ada Q & A with Reza Rahadian pake akun Finding Srimulat


Emm kalau yang ini conversation terpanjang sama Reza Rahadian, waktu itu saya kasih liat editan siluet bikinan teman *Nemo namanya* buat dibikin Mug. Kebetulan ada variasi siluetnya, dan Reza saya suruh pilih sendiri mau yang mana.

Wiss, ketika mug itu sudah di tangannya Reza, ehh dia Twitpic dan dimention ke akun saya. Emm Reza kan gak punya akun sosialita, jadi twitpic ini dikirim dari akun managernya, ka Amanda.

Dan saya senang sudah berkesempatan ketemu langsung dengan Reza Rahadian! Ewww ini penuh perjuangan asli. Tapi terbayar lah pokoknya hhhe. He was so humble. Bakal jadi aktor favorit saya sepanjang masa deh pokoknya :)
*Pelukcium*

Jumat, 15 Februari 2013

Happy Birthday (From My Lovely Actor)

13 Februari 2013 kemarin kan saya tepat berusia 17 tahun *halah, boong deng, 22 kok hhha* Tua ya? Ssstt diam-diam aja deh kalau mau ngomongin saya udah tua -_-

Oke, tepat di jam 12, adek saya si Sovia tetiba ngirim foto di bawah ini ke wall facebook saya


Ha ha ahaa mau ketawa sepuasnya deh. Asli dia ngerti banget kalau kakaknya ini pengen banget di hadiahin ucapan birthday langsung dari Reza Rahadian.

Daan ternyataa.. Reza Rahadian beneran ngucapin lewat akun twitter mamanya @Pratiwi_W


Sumpaahhh, itu tuh kayak mimpii!! saya mau jumpalitan rasanya.. seneengg bangeett :) Dan teman saya di jakarta, yang merupakan empunya Fanbase Pilarez Jakarta, menghadiahkan sayaaa......


Oemji, double dah bahagianya.

Thanks berat aktor idolaku :) *pelukcium